
Gaun Indah Untuk Nadia
Juni 25, 2008Nadia sedih banget. Gimana nggak? Seminggu lagi mo pesta prom night di sekolahnya, tapi hingga detik ini, Nadia belum punya gaun buat prom.
“Gue beli Guess, harganya mahal banget! Satu juta lebih loh!” kata Keke saat jam istirahat di sekolahnya.
“Gue sih Mango aja. Warnanya pink. Semalem beli di Senayan City. Keren deh, ada bunga-bunganya di bahu…” ucap Sila semangat.
“Ih, ribet banget. Musti nyiramin, ngasih pupuk!” timpal Aura cuek.
“Norak deh. Emangnya pot bunga? Nadia, lo kok diem terus sih? Ceritain dong gaun prom yang mau lo pakai! Merknya apa, warnanya apa, dan harganya berapa?” tanya Sila bingung.
Nadia hanya bisa tersenyum.
“Kalau gaun prom gue yang standar saja deh. Triset doang!” timpal Aura.
Nadia menunduk.
Jujur, hingga detik ini ia tidak punya satu pun gaun yang akan dia pakai di pesta prom minggu depan.
“Mama belum punya uang, Nadia… Maafkan Mama ya?” kata mama Nadia malam harinya, ketika Nadia menceritakan apa yang terjadi.
“Tapi, Ma… teman-teman Nadia sudah punya gaun baru…”
“Nadia tahu kan? Untuk makan kita sehari-hari saja Mama masih cari pinjaman?” kata mama Nadia dengan mata berkaca-kaca.
Ya, sejak kepergian papa Nadia setahun lalu, kondisi keuangan keluarga Nadia jadi terganggu. Semua harta mereka ludes untuk membiayai papa Nadia yang sudah bertahun-tahun menderita penyakit gagal ginjal. Hutang mamanya menumpuk di mana-mana. Untuk biaya sekolah Nadia, mamanya terpaksa bekerja apa saja asal mendapatan rizki halal.
Ada dilematik dalam diri Nadia. Masihkah ia tega meminta uang pada mamanya untuk membeli gaun prom? Rasanya nggak adil… Nadia masih punya nurani. Hanya saja yang membuat Nadia resah, Yosa, yang sedang pedekate dengan Nadia, akan mengajak Nadia pergi bareng. Akan dijemput pakai mobil mewahnya, dan keduanya akan berdansa bareng!
Yosa juga bukan cowok sembarangan. Anak tajir dan cowok idaman semua cewek di sekolahnya. Paling tidak Nadia harus bisa mengimbangi Yosa!
“Pokoknya kamu aku jemput ya, Nad? Kita berangkat bareng. Kamu mau kan?”
Nadia mengangguk senang.
“Thanks Nadia… sudah lama aku memimpikan kita bisa jalan bareng di malam perpisahan…. Karena setelah ini aku harus berangkat ke Amerika. Aku nerusin sekolah di sana…” kata Yosa pelan.
“Ke Amerika???”
“Ya, Nad. Ini Papa sudah dapet sekolahannya untukku….”
“Jadi kita….”
“Jarak nggak akan pernah mampu memisahkan kita, Nad. Trust me…!”
“Tapi di Amrik banyak cewek lebih cantik dari aku, Yos. Kamu pasti akan mudah tergoda….”
“Insya Allah nggak Nad. Kamu mesti percaya sama aku. Kamu mesti yakin bahwa kita tetap akan janji saling setia…” kata Yosa sungguh-sungguh.
“Kamu nggak bohong kan?”
Yosa tersenyum.
Ah, kini kepala Nadia pusing banget rasanya.
Berjam-jam ia mondar-mandir di kamarnya, mencoba mix and match baju-bajunya untuk malam prom. Tapi Nadia belum menemukan gaun yang terbaik untuknya.
“Kamu jangan sedih, Nadia. Mama akan terus berusaha mencari uang untuk kamu… “
“Ma, nggak usah. Kasihan mama. Nadia pakai baju seadanya saja. Masih ada yang bagus kok Ma…”
“Nggak sayang. Kamu mesti kelihatan cantik di pesta prom nanti. Kamu mau berangkat dengan Yosa, kan?” kata mama penuh pengertian.
“Iya, Ma. Tapi nggak usah dipaksa ya? Nanti Mama sakit…”
“Iya sayang, Mama penasaran. Yosa kayak apa sih? Mama pengen banget liat dia. Pasti dia cakep ya?”
“Iya sih, Ma….” Nadia tersipu sendiri. “Makasih ya, Ma. Mama baik banget sama Nadia…” Nadia menggenggam tangan mamanya erat. Mama Nadia mengangguk sedih. Dalam hatinya ia sangat ingin membelikan gaun untuk Nadia.
“Nadia! Mama dapat kerjaan baru!” kata Mama Nadia dengan penuh semangat beberapa hari kemudian.
“Oh ya, Ma? Apa kerjaan Mama?”
“Merawat orang yang sudah jompo sayang. Ada konglomerat pasang iklan di koran. Mama melamar. Eh, mama dipanggil dan mereka cocok sama Mama. Nah, nanti Mama akan pinjam uang dulu untuk beli gaun kamu!”
Mata Nadia langsung berkaca-kaca tak percaya.
“Ma, Nadia nggak butuh gaun lagi…”
“Lho, kenapa sayang???”
“Nggak pa pa, Ma. Ternyata ada gaun Nadia yang masih bisa dipakai, dan masih bagus! Itu, baju ulang tahun Nadia tiga tahun lalu! Nih!” Nadia menunjukkan gaun warna pink pada mamanya.
“Nadia…. Gaun itu sudah lama banget… Sudah nggak pantes dipakai…”
“Siapa bilang, Ma? Nadia masih suka kok. Sudah ya? Mama nggak usah mikirin lagi baju prom buat Nadia. Oke?” Nadia memeluk mamanya erat. Lalu masuk dalam kamar.
Di dalam kamar Nadia hanya mampu merenung.
Demi Tuhan, Nadia tidak pernah menyesali hidupnya. Keadaan keluarganya yang sedang diuji Allah dalam keadaan seperti ini. Ini hanya perasaan normal ketika ia ingin tampil cantil di pesta prom nanti. Bergandengan tangan dengan Yosa, berdansa di atas dance floor.
Tanpa harus bermimpi jadi King and Queen Prom Night yang akan digelar.
“Syukuri apa yang kita miliki dan apa yang belum kita miliki. Orang yang paling beruntung adalah orang yang selalu mensyukuri apa pun yang ada dan tidak ada dalam hidupnya…” nasehat papanya sebelum wafat selalu terngiang-ngiang dalam benaknya.
Dan kini pesta prom tinggal dua hari. Nadia sudah tidak memikirkan gaun baru yang akan ia pakai. Bahkan ia pasrah andai Yosa tidak mau bersamanya, karena ia tidak sekeren teman-teman lainnya.
“Nadia? Kamu bisa jemput Mama, Nak? Mama ada kejutan buat kamu!” kata mama Nadia begitu Nadia sampai di rumah.
“Mama di mana?”
“Mama di rumah Oma Rachel… Cepat sayang. Kamu harus ke sini sekarang!” kata mama Nadia sambil menyebutkan sebuah alamat.
Dengan angkutan umum, Nadia meluncur ke rumah alamat yang diberikan mamanya. Sebuah rumah mewah dan sangat mewah, bercat serba putih, dengan taman yang lebih luas dari lapangan sepak bola.
Nadia memijit bel rumah itu. Tak lama kemudian pintu terbuka. Nampak mamanya sedang mendorong seorang wanita tua yang sangat cantik. Rambutnya serba putih. Wanita itu duduk di kursi roda dengan anggun.
“Mama?”
“Nadia… salami, sayang. Ini Oma Rachel… Oma ingin bertemu dengan kamu…” kata mama Nadia. Dengan penuh hormat Nadia menyalami nenek Rachel.
“Kamu cantik, Nadia. Secantik Mama kamu….” kata Oma Rachel dengan takjub.
“Terima kasih, Oma….”
“Nadia, Oma ada hadiah buat kamu…”
“Hadiah? Nadia nggak sedang ulang tahun, Oma….”
Oma Rachel tersenyum. Ia mengambil bungkusan besar yang ada di pangkuannya.
“Ini untukmu….”
Kata Oma Rachel penuh kasih sayang. Dengan gemetar Nadia menerima kotak itu.
“Un… tuk Nadia, Oma?”
Oma mengangguk.
“Bukalah….”
Nadia dengan wajah kebingungan membuka kotak. Dan tak lama kemudian matanya terbelalak kaget. Sebuah gaun indah lengkap dengan sepatu dan tas mungil dengan nuansa serba merah ada di dalamnya. Dan dalam bandrol tertulis, Prada.
Prada???
“Nadia…. Ini gaun yang rencananya akan Oma kadoin untuk ulang tahun sweet seventeen cucu oma satu-satunya, Luna. Tapi, Yang Kuasa menyayanginya, dia dipanggil sebelum ulang tahunnya tiba,” kata oma sedih.
“Ya Tuhan….???”
“Suatu hari, Oma mendengar doa Mama kamu saat sholat… ia ingin sekali membelikan gaun untuk kamu. Oma jadi tersadar. Betapa berartinya gaun itu untuk kamu, Nak… Daripada hanya disimpan dan membuat Oma sedih karena teringat Luna terus….”
Nadia tercekat. Ia menarik gaun yang sangat lembut sekali kainnya. Gaun yang sangat mahal dan mewah. Nadia tak percaya. Nadia gemetar. Nadia hanya mampu menggigit bibirnya. Gaun yang sangat pas dengan ukurannya…
“Ayo sayang, bilang terima kasih sama Oma….”
Nadia menatap mamanya lalu memeluk dengan mata berurai airmata. Setelah itu, ia mengambil tangan Oma dan menciumnya berulang kali.
“Terima kasih, Oma….”
Dan malam minggu jam tujuh, malah tepat, sebuah BMW merah berhenti di depan rumah Nadia.
Yosa turun dengan baju warna hitam yang sangat keren. Dan mata Yosa langsung terbelalak kaget begitu melihat Nadia keluar dari rumah dengan gaun sangat indah. Nadia terlihat sangat cantik.
Mama Nadia menatap dari balik pintu dengan wajah bangga dan bahagia. Nadia terlihat sangat cantik luar biasa. Dan tidak hanya Yosa yang terpukau. Semua guru dan teman-teman Nadia tidak mampu lagi berkomentar kecuali hanya berdecak kagum dengan kecantikan dan keindahan gaun Nadia.
Sementara itu, Nadia sepanjang acara tak lepas mengucap syukur pada Allah. Ya, pertolongan Allah selalu datang di saat kita pasrah kepada-NYA. Dengan cara yang ajaib dan tak terduga….
Dikutip dari Majalah Kawanku
